Warga Lesten Merasa Belum Merdeka dari Keisolasian

Posted by in on Oct 05, 2013 . 0 Komentar.

Burung-burung di dahan pohon terus berkicau,saling bersahutan, kokok ayam jantan pun sudah menggema  di perkampungan Lesten, meski suasana dingin pagi masih menusuk pori-posi, seorang warga terlihat sedang
tergopoh-gopoh membawa sekarung beras dipundaknya demi mempertahankan hidup dirinya dan keluarganya.
Rutinitas itulah yang  selalu dilakoni Azwir,bersama rekannya yang lain,warga desa Lesten Kecamatan Pining Kabupaten Gayo Lues ini setiap dua minggu sekali dia turun ke ibu kota Kecamatan hanya untuk membeli sekarung beras, dua botol minyak tanah, dan dua Kg minyak goreng.
“dua minggu sekali kami turun ke kota pining saat hari pekan untuk membeli kebutuhan hidup bagi keluarga, karena jarak tempuh dari Desa Lesten ke Kecamatan Pining sangat jauh, bahkan hampir sama jaraknya menuju ke Kabupaten Aceh Tamiang, kondisi jalan yang sempit dan berada dilereng perbukitan,membuat kami harus tetap waspada, kalau lelah dan capek itu sudah kami nikmati sejak lahir
hingga dewasa,” katanya beberapa waktu lalu saat bertemu dengan wartawan. Azwir yang pekerjaan sehari-harinya sebagai petani dan mencari Ikan di sungai Lesten, hanya bisa menukarhasil taninya dengan minyak tanah dan minyak goreng, sedangkan perbandingan rupiah yang dihasilkan dari menjual hasil tani dengan harga bahan pokok sangat tidak sesuai. Bahkan sesekali ia bersama rekan-rekanya nekat mengarunggi Hutan terjal menuju Kuala Simpang Kabupaten Aceh Tamiang yang jaraknya sekitar 60 Km
dari Desa Lesten untuk membeli kebutuhan keluarga. “kami sangat berharap agar Pemerintah Daerah Gayo Lues, Gubenur Aceh, DPRA, dan Pemerintah Indonesia bisa  membuka jalan tembus dari Blangkejeren hingga ke Kabupaten Aceh Tamiang, supaya keterisoliran yang melanda warga Lesten dan Gayo Lues lainnya bisa segera diatasi,sejak merdeka sampai sekarang kami masih terisolasi dari dunia luar” pintanya.
Berbicara masalah keterisoliran yang dilanda masyarakat Gayo Lues,sebagian warga  mengaku pesimis tentang wacana yang di katakana GubenurAceh saat pelantikan Bupati dan Wakil Bupati beberapa hari yang lalu, “sudah sangat sering dikatakan akan membuka jalan tembus Gayo Lues menuju Aceh Timur dan Tamiang  tapi belum terbukti hingga sekarang” kata Syukri salah satu warga Gayo Lues Senin (1/10).
Belum dibukanya jalan tembus dari Blangkejeren menuju Aceh Tamiang memang salah satu penyebab harga hasil petanian sangat  murah, hal ini dikatakan Syukri berdasarkan jarak tempuh dari pusat Sentral ekonomi dengan pusat perdanganggan yang berjauhan. Untuk itu, jalan tembus dari Blangkejeren ke Aceh Tamiang harus direalisasikan Pemerintah.
“jika jalan tembus dari Blangkejeren menuju Aceh Tamiang dibuka, hal ini akan menguntungkan masyarakat, karena hasil Pertanian dari Gayo Lues bisa dibawa ke Aceh Tamiang, hasil laut bisa di jual ke Gayo Lues, tidak seperti sekarang ini, hasil tani dan hasil Laut hanya di jual ke Medan” katanya jika jalan ini tembus hanya memakan waktu dari Blangkejeren ke Tamiang 3 Jam.
Menurut perkiraan kata Syukri, jarak dari ibu Kota Gayo Lues (Blangkejeren) ke daerah Kecamatan Pining hanya 42 Km, dari Pining ke Desa Lesten 25 Km, dan dari Desa Lesten ke Aceh Tamiang hanya 60 Km.
bila jalan Blangkejeren menuju Aceh Tamiang ditembuskan, maka jarak tempuh dari Blangkejeren ke Aceh Tamiang hanya 127 Km, atau sekitar 3 jam perjalanan, dan dari Aceh Tamiang ke Medan hanya 2 jam perjalanan.
“sekarang kita tinggal menunggu realisasi yang dikatakan Gubenur bahwa jalan Tembus Gayo Lues menuju Aceh Timur di prioritaskan selama ia menjabat, meski hal ini sangat sulit karena sudah berulang kali dikatakan oleh pemimpin, sekarang kita tinggal menunggu” ungkapnya.
(Anuar Syahadat)


Tambahkan komentar mengenai artikel

Leave a Comment

Leave a Reply

* Nama:
* E-mail : (Not Published)
   Website: (Site url with http://)
* Komentar: