Menanti NKRI di LESTEN

Posted by in on Nov 23, 2012 . 0 Komentar.
BLANGKEJEREN – Insetgalus.com : Tubuh yang disandarkannya ke pohon besar itu, suatu barang dengan beban 50 Kg diikat dengan kain batik sebagai alat penggendong. Berbagai perlengkapan sembako terbungkus rapi menempel di pundaknya, benda-benda itu diikat dengan rapi agar tidak terjatuh. “ Tolong jangan ditambah lagi barangnya, terlalu berat”, katanya sambil sedikit membungkukkan tubuhnya.
 
Ismail (38), tinggi tegap dan bereok itu, kecapaian juga. Ia memilih mendekati sebatang pohon rindang. Dengan beringsut perlahan, beban barang yang menggantung di punggungnya diturunkan di atas tanah tertutup daun-daun segar itu.
 
Sesekali ia mengelap keringatnya, kaos putih Swand Brand yang dikenakannya berubah warna coklat tua karena rembesan peluh. “ Aduh,.. teduh ule, hek olok ( Waduh, rehat sejenak, capek kali – Red Gayo ), kata Ismail, Sabtu pecan lalu.
Ismail adalah warga Desa Lesten, desa terisolir yang berjarak 16 kilometer dari Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh.
 
Terlihat isi di dalam kain batik itu barang-barang kebutuhan pokok, seperti gula, beras, ikan asin, garam dan beberapa barang kebutuhan dapur lainnya. Ditambah lagi, beban lain ditangan kirinya sambil memegang tongkat di sebelah kanan. “ berat beh pak, ta , kune male ? gi ara cara laen nemahe, ( Red Gayo : berat sekali pak, lalu mau gimana lagi ? gak ada cara lain untuk membawanya), ujarnya.
 
Ismail menuturkan, barang seberat 50 kilogram itu harus diangkut dengan berjalan kaki karena tidak ada alat transportasi yang dapat menjangkau tempat tinggalnya. Bahan kebutuhan pokok akan dia gunakan untuk mencukupi makan keluarganya selama satu minggu ke depan.
” kalau nyewa orang terlalu mahal. Ongkos angkutnya tidak sebanding dengan harganya. Sering kali ongkos ankut lebih mahal daripada harga barang. Jadi, kami harus membawanya sendiri, “ katanya.

Kampung Lesten, tempat tinggal Ismail, adalah sebuah desa di tengah jajaran Bukit Barisan di wilayah Kabupaten Gayo Lues, Aceh. Tepatnya, desa itu masuk wilayah administrasi Kecamatan Pining. Warga Lesten sering kali harus berjalan berjam-jam, bahkan hingga dua hari, untuk mencapai ibu kota Kecamatan jika kondisi cuaca memburuk. Kalau hujan turun, dulu warga kampung berteduh semaunya di hutan dengan pelindung ala kadarnya seperti daun lebar tanaman hutan. “ kalau dulu memang agak sulit, tapi sekarang sudah ada kampung di tengah jalan. Kalau hujan , bisa berteduh disana, “ katanya.
 
Matdin (33), warga Lesten, menuturkan, kalau dulu tidak ada kendaraan apapun yang bisa menjangkau tempat tinggal mereka di tepi sungai Lesten. Sekarang, sudah dapat dilintasi dengan kendaraan roda dua dan empat, itupun kalau cuaca bagus, karena medannya cukup bengis sedikit diatas kejam.
 
Untuk mencapai Lesten memang tidak mudah. Menurut Matdin dan Ismail setidaknya warga Lesten harus berjalan kaki selama lebih kurang 5 hingga 7 jam untuk mencapai Pining. Begitu pula sebaliknya. “ kalau hujan, jalanan lebih licin macam bubur. Jadi harus menginap. Setidaknya dua hari baru bisa sampai ke lokasi, kata Matdin, warga setempat.
 
Start awal dari Pining, warga harus mengencangkan otot pahanya dan menarik napas panjang karena perjalanan ke Lesten langsung berhadapan jalan setapak dan menanjak. Tidak jarang kemiringan jalan di perbukitan tersebut mencapai lebih dari 35 derajat.
 
Dari Pining hingga ke Kampung Telege, salah satu perkampungan baru ditengah perjalan antara Pining – Lesten, perjalan sepanjang 8 kilometer dilakukan dengan mendaki perbukitan. Perjalanan ini kian berbahaya jika turun hujan. ” kalau musim hujan, kami semua yang ikut bawa barang harus ekstra hati-hati, ” katanya.

Dampak Buruk Transportasi Terhadap Mahalnya Harga Kebutuhan

Azwir (35), warga lainnya, mengatakan, biaya angkut barang dari Pining hingga ke Lesten dihitung per kilogram barang. misalnya harga beras Bulog untuk keluarga miskin, seharusnya bisa ditebus Rp. 1.600 per kilogram. Dengan raskin per keluarga yang mencapai 15 kilogram per bulan, warg harus mengeluarkan uang maksimal Rp. 24.000 untuk menebus beras tersebut.
 ” Lebih mahal ongkos angkutnya dari pada harga berasnya. Per kilogram dikenakan biaya jasa Rp. 4.000. Jadi, harga beras tidak sebanding dengan ongkos angkut, ” kata Azwir.
   
Harga semen, misalnya, satu zak semen ukuran 50 kilogram dapat dengan mudah dibeli di pasar seharga Rp. 50.000. Namun, hitungan ongkos angkut per kilogram membuat harga semen di Lesten jadi Rp. 250.000. sudah termasuk ongkos angkutnya, ” ujar azwir dengan lesu.
    ” Kamis merupakan hari pasar. Sebagian besar warga Lesten turun untuk membeli bahan makanan dan kembali ke atas. Butuh tiga hari pergi - pulang, satu hari untuk belanja di Pining, ” katanya lagi.
 
Pak Eman (44) salah satu perangkat Desa Lesten, mengatakan, sudah lama warga desa mengajukan kepada Pemerintah, tetapi hingga kini jalan yang layak belum terealisasi.
Namun, dengan kondisi desa yang terpencil dan sulit seperti itu, keceriaan anak-anak di desa Lesten masih terlihat. Kondisi seperti ini memang membutuhkan perhatian dari berbagai pihak baik Pemerintah, Swasta maupun Masyarakat Luas, agar desa Lesten menjadi daerah yang lebih maju dan mudah dijangkau, guna pemerataan disegala bidang.
 
Oleh karenanya, hasrat Pak Eman tak bisa di abaikan, ia ingin hidup merdeka di kampungnya Lesten sejajar dengan kampung yang lain, yang jalannya sudah mulus dan hotmix. Harapan Pak Eman pun, disambut baik Bupati Gayo Lues H. Ibnu Hasim, S.Sos, MM ( ketika berkunjung ke Desa Lesten 28-05-2011) lalu, karena jalan Lesten menuju Lokop adalah Jalan Provinsi, maka pihak Pemerintah Gayo Lues akan berusaha mengusulkan dan mengawal usulan tersebut ke Provinsi. ” dan insya Allah, tahun 2012 jalan Pining – Lesten akan di Aspal ”. Kata Ibnu ketika itu. ( Johari Argum )

Tambahkan komentar mengenai artikel

Leave a Comment

Leave a Reply

* Nama:
* E-mail : (Not Published)
   Website: (Site url with http://)
* Komentar: