Lesten, Ketertinggalan yang Begitu Sempurna

Posted by in on Oct 05, 2013 . 0 Komentar.
DARI 144 desa di Kabupaten Gayo Lues (Galus), Desa Lesten di Kecamatan Pining merupakan salah satu desa paling terisolir. Sampai saat ini kendaraan roda empat belum bisa menuju ke desa itu sehingga masyarakat harus berjalan kaki sejauh 18 kilometer jika ada keperluan ke ibu kota kecamatan.
Samsudin, seorang warga Galus kepada Serambi mengatakan, dari 144 desa yang tersebar di 11 kecamatan di Galus. Lesten merupakan desa sangat terpencil dan terisolir. Desa itu juga belum tersentuh jaringan listrik. Entah sampai kapan.
Baik Samsuddin maupun warga lainnya, terutama di Lesten hanya bisa berharap agar Pemkab Galus memberikan perhatian serius untuk desa tersebut, jika memang Lesten dianggap sebagai bagian dari Galus. “Bagaimana mau dikatakan pemerintah berpihak rakyat kalau listrik saja belum dinikmati oleh rakyat,” sindir seorang warga Galus.
Keprihatinan lainnya di Lesten adalah banyaknya anak-anak yang tidak bersekolah. Ini disebabkan belum adanya jalan maupun lembaga pendidikan pasca-SD. “Setelah tamat SD, anak-anak Lesten langsung berhenti sekolah. Kalaupun dipaksa, harus berjalan kaki ke sekolah di ibu kota kecamatan,” ungkap Agus (42), mantan Keuchik Lesten kepada wartawan.
Masih menurut Agus, hingga saat ini hanya ada satu-satunya SD di Desa Lesten, itu pun gurunya kurang aktif. Memang sangat lengkap ketertinggalan Lesten. Tak jelas kenapa ketertinggalan itu terkesan didiamkan saja oleh orang-orang yang punya ‘kekuasaan’ di negeri ini. Apakah karena tidak tahu, pura-pura tidak tahu atau karena merasa tak perlu, kecuali jika musim pemilu, ketika satu suara rakyat menjadi begitu berharga. Entahlah.(c40/nasir nurdin)
Editor : bakri

Sumber Serambinews.com, 11 Juni 2011


Tambahkan komentar mengenai artikel

Leave a Comment

Leave a Reply

* Nama:
* E-mail : (Not Published)
   Website: (Site url with http://)
* Komentar: