lesten belum merdeka

Posted by in on Oct 05, 2013 . 0 Komentar.
Tidak ada data mana pun yang menerangkan Lesten dengan utuh. Di sebuah website Pemerintahan Gayo Lues, nama desa yang dihuni 62 Kepala Keluarga ini pun, tak bisa dilacak melalui search engine-nya.
Lesten hanya terkenal di kalangan media, atau mereka yang peduli dengan nasib urang (orang) Lesten yang harus jalan kaki berhari-hari keluar masuk desa hanya beras dan bahan makanan lainnya. 
Demikian yang biasa mereka goreskan dalam tulisan dalam website, blog, dan surat kabar. Desa ini memang santer karena letaknya yang terisolir, jauh dari peradaban modern.
Bahkan sebagian kalangan menyebutnya belum merdeka atau daerah Gayo Lues coret-karena namanya yang tidak tercantum di dalam peta.
Desa Lesten, terletak 25 km dari Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues, Nanggroe Aceh Darussalam, atau sekitar 40 km dari ibukota Gayo Lues, Blangkejeren.
Dari Pining menuju desa di wilayah perbukitan ini, akses jalan tanah berkubang lumpur yang hanya bisa dilalui sepeda motor trail dan kendaraan double cabin bertali sling.
Desa yang ditinggali sebagian besar petani ini tak mengenal listrik. Hanya ada beberapa solar cell sumbangan pemerintah yang hanya bisa menghidupi lampu di beberapa rumah penduduk dan satu-satunya televisi di rumah geucik (kepala desa) selama dua jam.
Di tengah segala kekurangan, Lesten memiliki harta bernilai yang bisa menghidupi mereka tujuh turunan. Kekayaan bumi berupa nilam menjadi komoditas pertanian yang nilainya bisa berlipat ganda. 
Ketiadaan alat pengolahan dan ketidaktahuan masyarakat terhadap pengembangan usaha nilam menjadikan kondisi masyarakat semakin terpuruk. 
Bayangkan saja, harga nilam dari petani sekitar Rp 400 ribu per kg.
Padahal harga ekspornya tak kurang 1.000 dolar AS per kg*. 
* http://kebunnilam.blogspot.com/2012_04_01_archive.html

Tambahkan komentar mengenai artikel

Leave a Comment

Leave a Reply

* Nama:
* E-mail : (Not Published)
   Website: (Site url with http://)
* Komentar: